Posisi itu segalanya.
Sebelum ngomongin jarak, kecepatan, atau stamina, posisi dulu.
Tinggi seatpost salah sedikit, pinggang langsung protes.
Kemiringan sadel juga nggak bisa asal.
Terlalu ngangkat ke depan? Daya kayuh berkurang.
Terlalu miring ke bawah? Hmm, nggak enak di bagian bawah sana, kalau kamu tahu yang aku maksud.
City bike vs road bike.
Aku pernah pakai keduanya buat rute 12 km ini.
City bike? Paling nyaman di badan.
Tapi lambat.
Road bike? Ini Wimcycle Nitro 700C, sepeda dari SMP-ku.
Beda banget rasanya.
Lebih nunduk, lengan ikut nopang tubuh, sekitar 10%-an lah bebannya pindah ke sana.
Aku nggak tahu cara ngukurnya secara ilmiah, tapi itu yang kerasa.


Kaki aman.
Pegal? Iya.
Tapi masih batas wajar.
Bukan pegal yang bikin lemes seharian.
Yang aku khawatirkan justru bukan kaki.
Testis.
Hahaha, iya, serius.
Ternyata aman, selama pakai celana yang bagian tengahnya longgar.
Jangan pakai yang ketat. Percayalah.
Helm dan lampu, nggak bisa ditawar.
Helm dulu.
Aku sempat mikir dua kali soal penampilan.
Tapi ya, kepala cuma satu.
Jadi helm tetap jalan.
Lampu juga sama.
Aku berangkat pagi, masih gelap atau remang-remang.
Depan pakai lampu putih, belakang lampu merah.
Keduanya mode kedip.
Kenapa kedip? Menurutku kendaraan lain lebih aware kalau ada sesuatu yang bergerak dan berkedip.
Lebih mudah ditangkap mata daripada cahaya statis.
Entah itu benar secara ilmiah atau nggak, tapi aku lebih percaya diri di jalan dengan mode itu.
Sampai kantor, dua-duanya langsung aku cas.
Meja kerjaku ada colokan yang nyambung langsung ke monitor, ada port Type-C dan Type-B kalau nggak salah, jadi tinggal colok dan selesai.
Siap buat pulang nanti.
Dua momen paling memalukan.
Pertama, rantai macet di rear derailleur.
Di lampu merah. Di tanjakan pula.
Ceritanya, aku oper ke gigi ringan waktu nanjak menuju lampu merah, eh rantainya malah nyangkut masuk ke ruji.
Mati gaya.
Tangan belepotan oli dan tanah, tapi aku biarkan sampai kantor baru dibersihkan.
Kedua, plastik kresek isi pisang.
Aku gantung di rak belakang, pikir aman.
Ternyata waktu sepeda goyang-goyang, ayunannya pelan-pelan masukin bungkusan itu ke ruji.
Kresek sobek.
Putaran roda ke atas, pisang terbang.
Yang selamat: 2 dari 4.
Tingkat keselamatan 50%. Lumayan lah.
Perbaikan yang paling bikin beda.
Bunyi desisan antara kanvas rem dan rim sepeda akhirnya hilang.
Sebelumnya kayak ngerem terus sepanjang jalan tanpa sadar.
Begitu beres, sepeda terasa ringan banget.
Kecil tapi efeknya besar.
Soal baju.
Aku punya 3 baju kantor yang kainnya seperti bahan olahraga.
Ringan, waktu aku pegang terasa tipis dan agak licin sedikit.
Aku nggak tahu nama kainnya apa, tapi ini sangat membantu.
Waktu tempuh.
Sekitar 40 menit.
Anehnya, berangkat lebih cepat dari pulang.
Karena rumahku lebih tinggi dari kantor.
Pulang = nanjak.
Soal polusi.
Berangkat pagi, jalanan masih sepi, polusi minim.
Pagi di Bali itu udaranya masih segar, sesekali masih bisa cium bau dupa dari pekarangan rumah yang baru pasang canang.
Pulang lebih awal juga sama, hindari jam bubar kantor.
Keduanya sama-sama enak di hidung.
Urusan mandi dan ganti baju.
Baju kantor, celana, dan dalaman aku bawa sendiri di tas.
Sabun, hand body, parfum sudah aku simpan di kantor sejak awal.
Di kantor ada kamar mandi, ada jemuran, bahkan ada exhaust-nya.
Jadi baju yang basah kering lumayan cepat.
Baju berangkat aku pakai lagi saat pulang.
Agak jijik? Mungkin bagi sebagian orang.
Tapi sudah kering kok.
Cuma ya, bau keringat tipis-tipis. Wkwk.
Mungkin lain kali aku coba pulang pakai baju kantor sekalian.
Entahlah, belum aku putuskan.
Soal bawa barang.
Awalnya aku backpack-an.
Minusnya dua: punggung dan tas sama-sama basah kena keringat, dan bahu cepat capek kalau isi tasnya lumayan berat.
Solusinya: rak belakang.
Aku beli yang universal, sudah include tali kargo.
Sekarang aku pakai totebag biasa yang ada resleting di bagian atasnya, ditaruh di rak, lalu tali kargo aku lingkari sampai jepit si totebag dari atas.
Bukan diikat mati, tapi cukup kuat buat perjalanan 12 km.
Punggung bebas, bahu lega.
Jauh lebih nyaman.
Soal insiden pisang tadi? Itu sebelum era tali kargo.
Sekarang sudah lebih paranoid, jadi lebih hati-hati.
Oh iya, laptop aku tinggal di kantor.
Setiap hari WFO, jadi bisa begitu.
Belum berani taruh laptop di rak belakang cuma pakai tali kargo.
Kalau mau bawa laptop, kayaknya harus pakai tas pannier dulu.
Yang digantung di samping rak, bukan ditaruh di atas.
Lebih aman, lebih stabil.
Tapi belum sampai sana. Nanti dulu.
Penutup.
Trial dan error.
Itu intinya.
Nggak ada yang langsung sempurna dari hari pertama.
Dan kalau di tengah jalan sepeda bermasalah? Selalu ada Gojek.
Itu safety net yang bikin aku lebih berani coba.
Awal-awal malu juga sebetulnya.
Ngerasa diperhatiin orang di jalan, di lampu merah, di parkiran kantor.
Tapi lama-lama sadar, mereka lupa dalam hitungan detik.
Orang sibuk sama urusannya sendiri.
Sekarang? Senang.
Aku lebih suka nyebutnya komuting daripada olahraga.
Karena memang tujuannya ke kantor, bukan ke gym.
Tapi bonusnya jantung ikut sehat. Nggak aku tolak.
Dan yang paling aku suka?
Reaksi orang waktu tau aku naik sepeda PP 24 km setiap hari.
Terkejut.
Kadang nggak percaya.
Padahal ya, aku juga masih belajar.
Tapi keren juga sih rasanya. Wkwk.