Serang Orangnya, Bukan Argumennya: Pelajaran Logika dari Kasus Pesta Babi

Film dokumenter dibubarkan. Nobar di kampus-kampus dihentikan paksa. Dan respons dari pihak berwenang? Bukan bantahan atas isi filmnya -- melainkan sebuah pertanyaan: "Dari mana duit bikin Pesta Babi!?"

Tunggu dulu. Itu jawaban apaan?


Sedikit Latar

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita adalah film dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale. Film ini mengangkat kisah masyarakat adat Papua Selatan -- suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu -- yang kehilangan tanah dan hutan akibat ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, dan food estate skala besar. Narasi filmnya keras: situasi itu disebut sebagai bentuk kolonialisme modern atas Papua.

Film ini viral bukan karena konten brutalnya, tapi karena nobarnya dibubarkan aparat di sejumlah daerah, termasuk di Universitas Mataram dan Ternate Tengah.

Lalu muncullah video yang memperlihatkan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Maruli Simanjuntak, melontarkan pertanyaan soal sumber dana pembuatan film tersebut. (Tonton di sini)

Dan di situlah pelajaran logika kita hari ini dimulai.


"Itu Jawaban Apaan?" -- Selamat Datang di Ad Hominem

Bayangkan kamu sedang debat sama teman. Kamu bilang: "Harga beras naik terus tahun ini."

Lalu temanmu menjawab: "Lah, kamu sendiri siapa? Emangnya kamu ekonom?"

Nah, itu yang namanya ad hominem -- dari bahasa Latin, artinya "menyerang orangnya." Alih-alih merespons argumennya, kamu diserang sebagai pribadi: latar belakangnya, motifnya, sumber dananya, atau reputasinya.

Masalahnya? Serangan itu sama sekali tidak menjawab apakah harga beras benar-benar naik atau tidak.

Kembali ke kasus Pesta Babi. Pertanyaan "dari mana duitnya?" secara logika tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang seharusnya dijawab: apakah hutan Papua benar-benar dibabat? apakah masyarakat adat benar-benar tersingkir dari tanah leluhur mereka?

Kalau isi filmnya salah, bantah dengan fakta. Tunjukkan data yang berbeda. Hadirkan narasumber yang membantah. Itu cara yang fair.

Tapi kalau yang diserang adalah siapa yang bikin dan siapa yang bayar -- itu sinyal kuat bahwa isi filmnya susah dibantah.


Kenapa Cara Ini Efektif (Padahal Salah)

Ad hominem itu curang secara logika, tapi sangat ampuh secara politik. Ada beberapa alasannya:

Pertama, mengalihkan perhatian. Begitu publik sibuk membahas "filmnya dibayar asing atau bukan," diskusi soal masyarakat adat yang kehilangan tanah tenggelam begitu saja. Misi pengalihan berhasil.

Kedua, terkesan masuk akal. Pertanyaan "dari mana dananya?" terdengar wajar dan kritis. Orang awam bisa saja berpikir, "Oh iya ya, kalau dananya dari musuh negara berarti filmnya memang tidak bisa dipercaya." Padahal itu lompatan logika yang keliru.

Ketiga, membebani pihak yang diserang. Tiba-tiba si pembuat film harus sibuk membuktikan kejernihan sumber dananya, bukan lagi membicarakan isi filmnya. Energi dan perhatian publik tersedot ke isu yang tidak relevan.


Ada Variannya Banyak

Ad hominem bukan cuma soal duit. Di Indonesia, pola ini muncul dalam berbagai bentuk:

  • "Dia kan aktivis, pasti bias." -- meragukan objektivitas karena identitas
  • "Ini pasti pesanan asing." -- meragukan loyalitas nasional
  • "Dia sendiri dulu juga pernah salah." -- menyerang rekam jejak masa lalu
  • "Siapa yang mau untung dari film ini?" -- mempersoalkan motif tersembunyi

Semuanya punya satu kesamaan: tidak satu pun menjawab apakah klaim dalam film itu benar atau salah.


Tapi Tunggu -- Sumber Dana Kadang Memang Relevan

Supaya adil, ada satu situasi di mana sumber dana memang layak dipertanyakan: ketika kita tidak bisa memverifikasi klaim secara independen dan hanya mengandalkan kepercayaan pada si pembuat.

Misalnya, kalau ada lembaga riset yang merilis studi tapi semua datanya tidak bisa diakses publik, dan ternyata lembaga itu didanai oleh pihak yang punya kepentingan langsung -- di sana, sumber dana relevan untuk dipertimbangkan.

Tapi Pesta Babi beda konteksnya. Filmnya bisa ditonton. Narasumbernya adalah warga nyata yang bisa dikonfirmasi. Lokasi pengambilan gambarnya ada di peta. Klaim-klaimnya bisa dicek.

Jadi pertanyaan "dari mana duitnya?" di konteks ini bukan kritik yang substantif. Itu pengalihan.


Yang Justru Lebih Menarik Dipertanyakan

Kalau kita mau kritis soal sumber dana dan kepentingan -- ada pertanyaan yang jauh lebih relevan:

Proyek-proyek PSN di Papua itu dananya dari mana? Untuk kepentingan siapa? Mekanisme persetujuan masyarakat lokalnya seperti apa? Siapa yang dapat untung dari konversi hutan adat menjadi perkebunan?

Itu pertanyaan yang menyentuh substansi. Bukan siapa yang bayar kamera.


Penutup: Kenali Polanya, Jangan Termakan

Lain kali kamu melihat sebuah klaim atau kritik direspons dengan serangan ke orangnya -- bukan ke isinya -- tanya dulu ke diri sendiri: "Tunggu, ini jawaban untuk argumennya atau untuk orangnya?"

Kalau jawabannya adalah yang kedua, kamu baru saja menyaksikan ad hominem bekerja.

Bukan berarti si penyerang pasti salah soal isi klaimnya. Tapi setidaknya kamu tahu bahwa mereka belum menjawab pertanyaan yang sebenarnya.

Dan itu sudah cukup untuk tidak ikut-ikutan mengalihkan isu.


Referensi video: "Dari Mana Duit Bikin Pesta Babi!?" -- kanal Indonesia Baru, yang mengutip pernyataan Kasad Jenderal Maruli Simanjuntak.

Suka artikel ini? Bagikan ke temanmu atau salin link-nya!

Artikel Serupa